Refreshing

 foto-12.jpg

Menikmati Hawa Dingin di Sadarehe  

Jalanan berbatu, berkelok, menanjak, dan menurun, menjadi tantangan Radar Cirebon Bikers Club (RCBC) saat menjalani rute menuju kawasan Sadarehe, Kabupaten Majalengka, Rabu (16/5). Berikut sepenggal ceritanya.

*** PERJALANAN menuju Sadarehe oleh kru Radar Cirebon sudah direncanakan sejak seminggu sebelumnya. Tanggal merah (selain hari Minggu) memang ditunggu kru Korane Wong Cerbon ini untuk melepas kepenatan. Ditambah, “kehadiran” jaket baru warna merah berlogo Telkomsel menambah semangat kami untuk pergi touring. Rabu pagi (16/5), puluhan motor dan hampir seluruh karyawan Radar Cirebon dari bagian redaksi, pemasaran, dan percetakan, tak ketinggalan Direktur Radar Cirebon Yanto S Utomo serta Pemimpin Redaksi Abdul Malik, berkumpul di Graha Pena. Mereka bersiap melakukan touring, konvoi mengendarai sepeda motor ke Sadarehe.Nuansa alam sepanjang jalan yang dilalui, ternyata semakin menambah semangat peserta, bahkan tidak sedikit dari mereka terlihat tertawa lepas. Terutama, saat bendera Radar Cirebon yang dibawa oleh redaktur halaman Insiden 24 Jam, Rusdi Polpoke, nyrimpet di roda belakang motor milik wartawan desk kriminal, Asna Boson. foto-21.jpg “Makanya jangan cepat-cepat jalannya. Jalannya 50 km/jam saja,” pinta Rusdi kepada Boson yang menyetir. “Bagaimana mau tahu jalannya 50  km, motor saya tidak ada spedometernya bos,” jawab Boson yang disambut tawa semua kru.Selama di pejalanan banyak diwarnai peristiwa-peristiwa lucu. Termasuk, ketika harus berhenti beberapa kali di ujung gang, karena tidak tahu arah menuju lokasi yang dituju. “Apa benar jalannya lewat sini, mestinya lewat sana,” ujar Agus Panther Sugiarto, redaktur halaman olahraga sambil menunjuk arah telunjuk. Cakil, salah seorang peserta dari bagian pemasaran, bertindak sebagai penunjuk jalan.  Sayangnya, jalan yang ditunjukkan Cakil memutar jauh dan rombongan sempat terpecah. Bagian percetakanlah yang sampai duluan di puncak Sadarehe. “Ternyata orang percetakan selalu menjadi yang terdepan,” kata Mamat, koordinator percetakan.Rombongan akhirnya disambut wartawan Majalengka Abdurrahman yang akrab disapa Abr. “Pantas, saya sudah lama menunggu, ternyata nyasar,” ujar Abr. Suasana puncak Sadarehe yang dingin, ditambah gerimis, tidak membuat kru merasa lelah. Meski begitu, rombongan tetap dipersilakan beristirahat sebentar di Villa milik Nazar Hidayat atau Abah Encang yang dikenal sebagai ketua Pemuda Pancasila Majalengka, yang juga sebagai ketua Gapensi Majalengka.Villa tersebut ternyata masih orisinil, bangunan Belanda. Bahkan, beberapa fota tempo dulu juga masih terpasang, termasuk pesawat telepon kuno yang masih terpasang. Bahkan patung Jenderal Deandels juga ada.Direktur Radar Cirebon Yanto S Utomo menjelaskan, touring ini digelar untuk refreshing bagi semua karyawan. Jika selama ini  sibuk dengan berbagai kegiatan kantor, karena sekarang bertepatan dengan hari libur, tak ada salahnya jika menyegarkan pikiran dengan menikmati pemandangan alam Kabupaten Majalengka.  foto-31.jpg Tidak hanya itu, pria yang akrab disapa Pak Yanto menuturkan, dengan touring ini seluruh karyawan  dapat merekatkan kebersamaan dan menumbuhkan rasa solidaritas antara sesama karyawan, walaupun berbeda bagian. “Kerja akan terasa nikmat apabila di dalamnya ada nuansa kebersamaan antara sesama karyawan,” ujarnya.Redaktur Pelaksana Toto Suwarto yang mengendarai sepeda motor tahun 80-an atau tempo doeloe mengaku senang dengan touring ini. “Ajang ini sekaligus pembuktikan kepada khalayak ramai bahwa motor saya masih mampu,” katanya. “Iya, itu juga setelah mesinnya disiram air beberapa kali,” celetuk Asisten Redpel, Iing Casdirin. (*)  

pengecer day’s

 

 

 

foto-11.JPG
Jualan koran di tengah jalan, nggak jauh beda sama pengecer asli…

Bingung, Baru Nyeberang Nyaris Ketabrak

RABU pagi 20 Desember 2006, ada yang beda di jalan-jalan Kota Cirebon. Pada hari-hari biasa mungkin ada “pasukan kuning”, yang menyapu jalan-jalan di kota ini. Tetapi kemarin, yang muncul kok “pasukan krem”? Mereka bukan penyapu jalan, tetapi kru Radar yang mengenakan bajur seragam barunya berwarna krem.

Pagi itu turun ke jalan untuk menjual koran. Aksi ini untuk ikut merasakan bagaimana rasanya menjadi pengecer koran. Semua kru Radar turun ke jalan, tanpa terkecuali Direktur Radar Cirebon Yanto S Utomo dan Pemred Abdul Malik. Hari itu semuanya menjadi pengecer dadakan.

Beberapa kejadian lucu muncul dalam aksi “turun jalan” itu. Ada yang laku semua (satu kru bawa lima koran), ada juga yang tidak laku sama sekali. Seorang reporter, Imam Bukhori, berjualan di depan Pendopo Bupati Cirebon dan tidak laku satu pun. “Tadinya saya tunggu bupati keluar, siapa tahu satu koran dibeli lima ratus ribu,” katanya cengengesan. Sayangnya, orang yang ditunggu-tunggunya tak muncul-muncul.

Ada juga pengalaman Asisten Redpel, Iing Casdirin, yang nyaris keserempet mobil saat mau menyeberang Jalan Karanggetas sambil bawa koran. “Baru mau nyeberang jalan saja sudah mau ketabrak mobil, priben pan dadi pengecer,” kata Asisten Redaktur M Joharudin, meledek.

Ada juga pengalaman Asisten Korlip Bayu Harimurti yang membawa megaphone saat menjual koran di depan Toserba Asia. Sayangnya suara megaphonnya masih kalah keras dengan suara salon milik penjual VCD, yang kebetulan pagi itu memutar lagu SMS, milik Trio Macan.

Kejadian-kejadian saat menjadi pengecer koran dadakan tersebut sudah bisa membuktikan, bahwa ternyata menjadi loper koran itu gampang-gampang susah. Harus bisa meyakinkan calon pembeli bahwa berita-berita dalam koran yang dibawanya itu bagus dan dibutuhkan masyarakat luas.

Dalam keadaan normal saja, para pengecer harus bekerja ekstra agar korannya laku. Apalagi saat koran terbit dengan salah cetak atau salah huruf, maka pengecerlah yang “menutupi” kesalahan-kesalahan itu. “Makanya sangat pantas bila ada redaktur yang diskorsing karena tidak teliti dan salah huruf. Dosanya besar, karena membuat repot pengecer dan bikin bingung puluhan ribu orang (pembaca, red),” kata Iing Casdirin.

Tetapi syukurlah, para pengguna jalan yang tidak membeli koran Radar di jalan-jalan dan lampu merah, bukan karena tidak suka, tetapi karena sudah berlangganan di rumah. “Pas saya tawarin, rata-rata bilang sudah langganan di rumah,” kata Pemred Abdul Malik.


foto-3.JPG
Pimpinan perusahaan, Pak Tommy Sudaryono malu-malu plus memang begitu gayanya..

Gugup tapi laku keras

Menjual koran memang bukan perkara gampang. Hal ini dialami Redaktur Pelaksana Radar Cirebon, Toto Suwarto. Pria yang kesehariannya terkenal humoris itu mendadak dibuat mati kutu. Untuk beberapa saat, ia yang kebagian mangkal di perempatan Kejaksan arah Jl Siliwangi hanya terkesima melihat lalu-lalang kendaraan yang melintas. Jatah lima eksemplar yang dibawanya pun hanya ditenteng begitu saja.

Namun, tak lama ia mulai sadar bahwa pada hari itu tugasnya bukan sekadar mejeng tak karuan, tapi menjadi seorang pengecer. Akhirnya dengan langkah mantap ia mulai beraksi. Satu, dua hingga beberapa mobil dan motor yang melintas tak satupun yang membeli.

Setiap ditawari, jawaban mereka hampir sama. “Saya sudah langganan.” Bahkan, beberapa di antara mereka hanya menggerakkan tangan tanda tak berminat membeli. Tidak sedikit juga yang menyangka koran itu digratiskan. Di lokasi ini, Redaktur Khusus Moh Fauzi paling banyak menjual koran, yakni 10 eksemplar selama 40 menit. “Wah sudah pantes jadi pengecer, eh bos pengecer, lakunya paling banyak,” sindir Eko Waska, asisten redaktur.

Lokasi perempatan Kejaksan ke arah Jl Siliwangi memang sengaja ditempati sedikitnya 10 orang. Di antaranya, Direktur Radar Cirebon, Yanto S Utomo. Pria yang akrab disapa Pak Yanto ini tanpa ragu ikut berbaur menjajakan koran.

Tidak ada istilah diistimewakan. Karena ditarget jatah habis, Pak Yanto pun ikut bersaing menjual koran. Ia sempat rebutan dengan anak buahnya demi bisa menjual satu eksemplar koran. Kemarin, pengecer dadakan dibagi ke lampu merah kawasan Gunung Sari, Siliwangi dan Karanggetas. (*)

Singapura

file-5.JPG

Melawat ke KBRI Serasa di Rumah Sendiri

Kunjungan tiga hari di Singapura, dimanfaatkan betul oleh rombongan guru favorit. Setelah melihat modernnya sekolah dasar Yangzheng Primary School, tempat berikutnya adalah Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura sekaligus melihat dari dekat Sekolah Indonesia Singapura (SIS).

***

Bangga rasanya ketika melihat kantor KBRI Singapura, di Melawai Road. Betapa tidak, kantor tersebut sangat megah dan besar. Ketika menginjakkan kaki di halaman kantor langsung terasa “udara” tanah air. Segar, karena di sana sangat rimbun pepohonan. “Seperti di rumah sendiri,” kata Manajer Sirkulasi Radar Cirebon, Luluk A Kholik sambil tersenyum.

Suasana di lingkungan KBRI memang sangat Indonesia banget. Bahkan, ada beberapa guru favorit berteriak karena merasa bebas bicara menggunakan bahasa Indonesia. Ini berbeda dengan kunjungan sebelumnya, mereka cukup kesulitan karena harus pandai cas-cis-cus.

Dalam lawatan ini, rombongan diterima oleh Kepala Bagian Ekonomi Siti Mizamiah, Kepala Bagian Ekonomi Pers dan Politik, Tomi Fidaus serta Kepala Sekolah Indonesia Singapura (SIS), Drs Wirsam. Sekitar 45 menit rombongan beramah-tamah dengan staf KBRI sambil menikmati jamuan yang telah disediakan. Rombongan kemudian melanjutkan kunjungan ke Sekolah Indonesia Singapura (SIS) di 20A Siglap Road.

Di Sekolah Indonesia Singapura ini tak ubahnya seperti rombongan ketika berkunjungan ke Sekolah Indonesia Kuala Lumpur Malaysia (SIK). Bedanya, kalau di SIS bangunan lebih megah dan bertingkat, sementara di SIK, arsitektur bangunannya tempo doeloe.

Sayangnya, ketika rombongan guru favorit berkunjung ke SIS tak bisa melihat kegiatan belajar mengajar (KBM). Sebab, kunjungan itu diluar jadwal. Apalagi datangnya rombongan ke sekolah tersebut sore hari, KBM sudah selesai. Namun demikian, Kepala SIS Drs Wirsam dan staf guru ltetap menyambut hangat. Bahkan, oleh pihak sekolah, rombongan guru favorit diajak berkeliling ke setiap ruang kelas.

Menurut Wirsam, jumlah keseluruhan siswa di SIS sebanyak 350 orang. Siswa TK 15 orang, SD 115, SMP 132 dan sisanya SMA. “Untuk tahun ajaran baru ini siswa TK di SIS hanya ada 5 orang,” tuturnya. Alasan merosotnya siswa baru masuk ke SIS, kata Wirsam, selain berkurangnya jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di Singapura, juga karena ada yang lebih mementingkan anaknya menuntut ilmu di Indonesia.

Pada kesempatan itu, Wirsam mengungkapkan rasa bangga atas kerja keras semua jajarannya selama ini. “Kami bangga, di UN (ujian nasional, red) lalu semua siswa SMA SIS ini lulus 100 persen. Dan, banyak lulusan SIS diterima di UI, ITB dan Unpad Bandung. Bahkan, sudah ada siswa kami yang terbang ke Jerman untuk melanjutkan kuliah, karena diterima di sana,” ucapnya bangga

Mengenai sistem pendidikan di SIS, Wirsam menjelaskan, tidak berbeda dengan di Indonesia. Sebab, semua sekolah Indonesia yang berada diluar negeri yang berjumlah 13 sekolah itu tetap mengacu pada kurikulum tahun 2004.(*/5-habis)

Singapura

file-4.JPG

Sekolah Dasar Juara Entrepreneur

Semangat rombongan guru favorit patut diacungi jempol. Meski energi cukup terkuras, namun tetap terlihat ngotot untuk terus bisa menimba ilmu. Setelah melawat beberapa hari di Bangkok Thailand mengunjungi sekolah dasar Thairathwhithaya 75, rombongan guru favorit terbang ke Singapura. Sekolah yang dituju adalah Yangzheng Primary School. Apa kelebihan sekolah tingkat dasar (SD) di negeri Merlion itu?

***

Ada perbedaan mencolok antara sekolah di Singapura dengan sekolah-sekolah Indonesia, Malaysia ataupun Thailand. Apa itu? Salah satunya adalah terbatasnya lahan. Ini karena luas Singapura sendiri tidak lebih besar dari Cirebon. Hal ini pula yang terlihat di Yangzheng Primary School, sekolah dasar berlokasi di 15 Serangoon Avenue 3.

Akibat keterbatasan lahan itu, bangunan sekolah yang dipimpin Mrs Annie Chan dibuat bertingkat. Sehingga, sarana olahraga pun sengaja dibuat indoor. Seperti yang terlihat di lantai II, di mana terdapat ruangan sangat luas yang digunakan sebagai lapangan badminton.

Namun demikian, bukan berarti lahan nan sempit itu tidak berguna sama sekali. Pihak sekolah menyulap halaman yang terbatas tersebut menjadi kebun dan kolam ikan mini. Isinya tanaman “kampung” seperti jagung tapi dengan cara tanam hydroponik.

Melihat itu guru favorit versi pembaca Radar Cirebon yang terdiri dari Drs Suwandi MPd dan Drs Wirsad MPd (SMAN 7 Cirebon ), Drs Supardi (SMP Abu Mansur Plered), Drs Kardiyah, Cartam (siswa) MAN Sukra Indramayu, dan Sri Mulyati SPd (SD Cipondok Kadugede Kuningan) berdecak kagum.

Bila bicara soal fasiltas, sekolah ini memang lebih modern dari sekolah-sekolah yang dikunjungi sebelumnya. Maklumlah, sekolah yang didirikan tahun 1906 dan berkiblat ke China ini menjadi sekolah terfavorit di Singapura.

Menurut Mrs Annie Chan, banyak prestasi yang berhasil diraih sekolahnya. Salah satunya yang paling gres adalah juara pertama dalam bidang entrepreneur (kewirausahaan) se-Singapura.

Rombongan guru favorit berkesempatan diajak melihat dari dekat aktivitas belajar dan fasilitas sekolah. Guru Yangzheng Primary School yang menemani rombongan guru favorit dari Radar Cirebon, Rozalita dan Lenny Safarwati dengan senang hati menjawab berondongan pertanyaan yang diajukan.

Rozalita menjelaskan, selain diajarkan teori, siswa juga dituntut untuk menerapkannya (praktik). Seperti yang terlihat di sebuah ruangan kelas, beberapa siswa tengah asik membakar butiran gula berwarna-warni. Setelah itu, dengan menggunakan kipas berbatrei kecil, gula tadi ditaburkan di sebuah wadah yang dilapisi alumunium foil sehingga membentuk jaringan halus.

“Kalau di kita namanya harumanis,” kata Syahbana, manajer iklan Radar Cirebon, yang sedari tadi asyik memperhatikan.

Rozalita menjelaskan, untuk membuat siswa enjoy, selain disediakan fasilitas yang lengkap, pihak sekolah juga menciptakan ruangan kelas yang nyaman. Dinding dicat warna-warna cerah, begitu juga dengan kursi dan meja.

Lenny Safarwati menambahkan, walaupun modern, soal agama dan budaya Yangzheng Primary School tetap menjadikan prioritas utama. Ia mencontohkan penampilan sejumlah guru yang beragama Islam dibebaskan untuk berjilbab. (bersambung/4)

Thailand

file-3.JPG

Pengusaha Koran Bangun Sekolah

Setelah Malaysia, negara tujuan studi banding berikutnya adalah Thailand. Kendati kondisi negeri Gajah Putih itu hampir sama dengan Indonesia, namun tetap saja ada yang berbeda. Selain dibedakan oleh kepercayaan mayoritas penduduk Thailand (beragama Buddha) dan budaya yang unik, ternyata pendidikan di sana tidak lepas dari peran industri surat kabar atau koran.

***

Pembangunan sumber daya manusia (SDM) di Thaliand bukan saja menjadi bidang garapan pemerintah. Pengusaha media juga ikut peduli, salah satunya dengan mendirikan sekolah dasar (SD). Inilah yang dilakukan koran terkemuka di Thailand, Thairat. Tidak tanggung-tanggung, Thairat membangun sekolah sebanyak 101 buah.

Rombongan guru favorit tidak menyia-nyiakan kesempatan menimba pengalaman dengan mengunjungi salah satu sekolah tingkat dasar (SD) milik koran Thairat yakni, Thairathwithaya 75 di Bangkok. Angka 75 itu merupakan sekolah ke-75 yang dibangun koran Thairat.

Sekolah yang luasnya sekitar 1,5 hektare itu dipimpin oleh Mrs Ratri berlokasi di Whachapol Ramintra Road, Saimai District Bangkok. Karena didirikan oleh kalangan swasta, kegiatan belajar mengajar (KBM) di Thairathwithaya 75 tentunya sangat baik. Yang membuat geleng kepala, biaya sekolah ditanggung oleh koran Thairat, termasuk gaji guru. Namun demikian pihak kerajaan/pemerintah Thailand tetap memberikan bantuan.

”Kami tetap menggunakan kurikulum pemerintah, tapi kami juga diberikan keleluasan untuk membuat program pendidikan sendiri yang efektif bagi siswa. Dalam proses pembelajaran, kami banyak memberikan kebebasan kepada siswa untuk berkreasi sendiri sesuai kemampuan. Guru akan mengakomodasi dan mengarahkan mereka,” papar Mrs Ratri dalam bahasa Thailand.

Meskipun diberikan kebebasan dalam berkreasi, kata Ratri, siswa tetap ditekankan untuk mengedepankan nilai agama dan budaya.. “Kami melihat, siswa benar-benar patuh dan menjalankan keyakinan dengan serius. Pakaian sekolah mereka juga sama dan tidak ada yang berambut panjang. Untuk anak laki-laki potongan rambut cepak dan anak rambut sebahu,” komentar Drs Kardiyah, guru favorit asal MAN Sukra Indramayu.

Di sekolah Thairathwithaya ini, rombongan guru favorit yang dipimpin Dirut Radar Cirebon, H Mahtum Mastoem SE MM memang tidak bisa menyembuyikan rasa kagumnya. Tidak hanya salut atas fasilitas sekolah yang sangat lengkap mulai dari ruang workshop pembuatan koran sampai bioskop mini, rombongan juga terkesan dengan sikap siswa. Ketika rombongan guru favorit berpapasan, mereka langsung mengucapkan salam sambil menempelkan dua telapak tangan di dada.

Pihak sekolah memang sagat ketat dalam hal ini. Sekolah mewajibkan semua siswa setiap pagi sebelum masuk kelas mengikuti doa bersama di halaman. Mereka duduk berderet di halaman sekitar 15 menit dengan mata terpejam dan kedua tangan ditempelkan di dada. Baru setelah itu, siswa menyanyikan lagu rohani dengan iringan musik.

Selain pendidikan agama, sekolah Thairathwithaya 75 juga tetap konsen terhadap pendidikan keilmuan lainnya, seperti Matematika, Fisika, Biologi, Bahasa Inggris, komputer dan seni. Yang mencengangkan, meski masih kanak-kanak, mereka sudah dibekali ilmu membuat koran sekolah sendiri. “Tidak menyangka, mereka sejak SD sudah diajarkan software-software pembuatan koran, mulai mengedit gambar pakai photoshop sampai melayout sendiri, walau bentuk korannya masih sederhana,” kata Redaktur Pelaksana Radar Cirebon, Toto Suwarto yang berkesempatan melihat dari dekat kegiatan belajar membuat koran di lantai III. (bersambung/3)

Malaysia

file-21.JPG

Disambut Khusus di SIK, Bikin Iri Rombongan Lain

Empat hari berada di Malaysia dimanfaatkan betul oleh rombongan guru favorit se-Indonesia. Setelah menimba pengalaman di SMK Bandar Utama, keeseokan harinya mengunjungi Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIK). Lawatan ke sekolah ini menimbulkan kesan yang mendalam, terutama bagi rombongan asal Cirebon. Kenapa?

***

Kunjungan ke SIK pada Rabu 17 Juli 2006 pagi memang sangat spesial terutama bagi guru favorit yang berasal dari Cirebon. Selain suasana dan “aroma” sekolah seperti sekolah di tanah air, kunjungan itu layaknya reuni sebuah keluarga. Ini karena dua guru SIK berasal dari SMAN 7 Kota Cirebon, salah satunya adalah alumnus pemilihan guru favorit versi pembaca Radar Cirebon tahun 2005 lalu, Drs Robani.

Yang membuat terharu campur bangga, sambutan luar biasa diperlihatkan tuan rumah. Selain jamuan dan hiburan tari Jaipong, acara penyambutan di aula sekolah setempat seakan-akan ditujukan hanya untuk rombongan Radar Cirebon. Lihat saja, spanduk yang dibuat terkesan khusus untuk para guru favorit versi pembaca Radar Cirebon.

Karuan, sambutan yang sangat procirebon ini sempat menjadi bahan guyonan. “Wah acara ini hanya untuk guru-guru dari Radar Cirebon, bukan untuk kita. Lihat saja spanduknya,” kata Ardiansyah, Direktur Radar Lampung yang menjadi pimpinan rombongan guru favorit Provinsi Lampung.

Sambutan yang diluar dugaan itu merupakan hasil kerja dua guru asal Cirebon, Dadang Hermawan MED dan Drs Robani. Mereka aktor penting di balik acara itu. Tidak mengherankan memang, Dadang Hermawan memiliki posisi cukup penting di sana. Pria lulusan S2 Pendidikan Matematika Universitas Malaya ini menjabat Wakasek Bidang Kurikulum. Sedangkan, Robani meski belum enam bulan mengajar di sana cukup aktif dan menjadi guru andalan SIK.

Setelah beramah tamah, dipandu Kepala SIK, Abdul Jawat, rombongan diajak berkeliling melihat fasilitas sekolah yang beralamat di No 1 Lorong Tun Ismail Kuala Lumpur. Sekolah yang didirikan tanggal 10 Juli 1969 itu menempati bangunan tua peninggalan Inggris. Karenanya, pihak sekolah tidak leluasa melakukan pengembangan karena tidak diperbolehkan mengubah bangunan yang termasuk benda cagar budaya.

SIK merupakan kompleks sekolah terpadu mulai dari SD sampai SMA. Masing-masing ruangan dilengkapi AC dan audio visual (DVD). Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum tahun 2004. Jumlah siswa tahun 2007, tercatat 233 siswa (SD), 143 (SMP) dan 125 (SMA) dengan guru 22 orang.

Kepala SIK, Abdul Jawat mengatakan, sejumlah prestasi telah diraih sekolahnya. “Bulan lalu kami mendapat juara pada even seni antar sekolah Indonesia yang digelar di Bangkok, Thailand. Salah satunya siswi kami Fitria yang membawakan tari Jaipong,” katanya bangga. Selain di bidang seni, SIK juga menonjol dalam bidang akademis. Banyak lulusan SIK yang berhasil menembus perguruan tinggi negeri (PTN) di tanah air. “Tiap tahun terus mengalami peningkatan. Tahun 2003, 85 persen lulusan SIK diterima PTN, tahun 2004 sebanyak 92 persen dan tahun 2005 meningkat 95 persen. Kebanyakan lulusan kami masuk Fakultas Kedokteran UI,” katanya.

Abdul Jawat juga mengungkapkan, sekolahnya meraih hasil baik dalam ujian nasional (UN) beberapa waktu lalu. Semua siswa SIK lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. “Semua itu berkat sistem pengajaran terpadu dan dukungan guru-guru. Kami juga sudah memulai dalam meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris siswa dengan langsung mengambil guru orang asing,” jelasnya. (bersambung/2)

Malaysia

 file-1.JPG

Gunakan Koran, Siswa Pecahkan Kasus Penculikan

Studi banding guru-guru favorit versi pembaca Radar Cirebon ke tiga negara, Singapura, Malaysia dan Thailand yang dimulai Sabtu (15/7/06) hingga Sabtu (22/7/06) membawa manfaat yang luar biasa. Banyak pelajaran yang dapat diperoleh dari sekolah-sekolah yang dikunjungi di sana.

***

Rombongan guru favorit Cirebon bersama guru favorit dari Tegal, Provinsi Banten, Jambi, Lampung dan Bengkulu seakan tak pernah capek. Memang, mereka sempat beristirahat satu malam di Genting Highland setelah menempuh perjalanan jauh yang sangat melelahkan menggunakan bus dari Singapura. Ya, para guru itu tetap tampak “kehausan” untuk mencari tahu dan menimba ilmu.

Ini terlihat dari antusiasme mereka saat mengunjungi salah satu sekolah terbaik di sana yakni Sekolah Menengah Kebangsaan (SMK) Bandar Utama di Petaling Jaya. Lokasi sekolah itu kira-kira 45 menit dari Kuala Lumpur.

Di SMK Bandar Utama ini, hampir semua rombongan guru favorit dibuat kagum. Sebab, sistem pendidikan yang ada di sana jauh lebih baik. Di SMK Bandar Utama, para siswa tidak hanya dituntut untuk mempelajari ilmu pengetahuan dari mata pelajaran yang ada, melainkan berkreativitas sendiri. Salah satunya dengan menggunakan surat kabar terkemuka The Star.

Para siswa sempat mempraktikkan bagaimana mereka mengasah logika menggunakan koran. Oleh guru mereka, siswa yang tiap kelas hanya berjumlah sekitar 30 orang itu dibagi dalam enam kelompok. Mereka diberi tugas memecahkan sebuah kasus penculikan yang nantinya harus dibahas bersama-sama.

Setelah semuanya mengerjakan secara berkelompok, mereka lalu mempresentasikan alasan-alasannya. Di sinlah terjadi debat yang cukup seru. Masing-masing kelompok harus bisa mempertahankan pendapat mereka dengam memberikan alasan yang logis atau masuk akal. Meski sedikit tegang, sesion “saling bantai” itu tetap diakhiri dengan kegembiraan tanpa ada rasa permusuhan.

Selain melihat metode pengajaran, para guru juga tak habis-habisnya memberondong pertanyaan soal sistem dan kebijakan di sekolah tersebut. Setelah puas “belajar” di SMK Bandar Utama, siang harinya rombongan mengunjungi percetakan koran berbahasa Inggris terbesar The Star di Selangor.

Rasa kagum juga kembali dirasakan oleh hampir seluruh rombongan begitu meginjakkan kaki di sana. Selain karena bangunannya yang sangat besar dan megah, diketahui harian The Star dicetak 350.000 eksemplar perhari dengan jumlah 200 halaman dan dijual 0,8 RM (Ringgit Malaysia). Satu RM sekitar Rp3.000. Padahal ongkos cetak koran per eksemplarnya sebesar 1 RM.

Ketika rombongan diperbolehkan masuk ke ruang mesin percetakan, terlihat pemandangan mengesankan. Selain, ruangan mesin cetak The Star sangat bersih, juga kemampuan mencetaknya yang luar biasa. Mesin Goss canggihnya mereka mampu mencetak 80.000 eksemplar setiap jamnya, jauh dibanding kemampuan mesin milik Radar Cirebon, yang hanya 15.000 eks per jam. (bersambung/1)


December 2016
M T W T F S S
« May    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Flickr Photos

6922

untitled

Coigach

More Photos

Top Posts