pengecer day’s

 

 

 

foto-11.JPG
Jualan koran di tengah jalan, nggak jauh beda sama pengecer asli…

Bingung, Baru Nyeberang Nyaris Ketabrak

RABU pagi 20 Desember 2006, ada yang beda di jalan-jalan Kota Cirebon. Pada hari-hari biasa mungkin ada “pasukan kuning”, yang menyapu jalan-jalan di kota ini. Tetapi kemarin, yang muncul kok “pasukan krem”? Mereka bukan penyapu jalan, tetapi kru Radar yang mengenakan bajur seragam barunya berwarna krem.

Pagi itu turun ke jalan untuk menjual koran. Aksi ini untuk ikut merasakan bagaimana rasanya menjadi pengecer koran. Semua kru Radar turun ke jalan, tanpa terkecuali Direktur Radar Cirebon Yanto S Utomo dan Pemred Abdul Malik. Hari itu semuanya menjadi pengecer dadakan.

Beberapa kejadian lucu muncul dalam aksi “turun jalan” itu. Ada yang laku semua (satu kru bawa lima koran), ada juga yang tidak laku sama sekali. Seorang reporter, Imam Bukhori, berjualan di depan Pendopo Bupati Cirebon dan tidak laku satu pun. “Tadinya saya tunggu bupati keluar, siapa tahu satu koran dibeli lima ratus ribu,” katanya cengengesan. Sayangnya, orang yang ditunggu-tunggunya tak muncul-muncul.

Ada juga pengalaman Asisten Redpel, Iing Casdirin, yang nyaris keserempet mobil saat mau menyeberang Jalan Karanggetas sambil bawa koran. “Baru mau nyeberang jalan saja sudah mau ketabrak mobil, priben pan dadi pengecer,” kata Asisten Redaktur M Joharudin, meledek.

Ada juga pengalaman Asisten Korlip Bayu Harimurti yang membawa megaphone saat menjual koran di depan Toserba Asia. Sayangnya suara megaphonnya masih kalah keras dengan suara salon milik penjual VCD, yang kebetulan pagi itu memutar lagu SMS, milik Trio Macan.

Kejadian-kejadian saat menjadi pengecer koran dadakan tersebut sudah bisa membuktikan, bahwa ternyata menjadi loper koran itu gampang-gampang susah. Harus bisa meyakinkan calon pembeli bahwa berita-berita dalam koran yang dibawanya itu bagus dan dibutuhkan masyarakat luas.

Dalam keadaan normal saja, para pengecer harus bekerja ekstra agar korannya laku. Apalagi saat koran terbit dengan salah cetak atau salah huruf, maka pengecerlah yang “menutupi” kesalahan-kesalahan itu. “Makanya sangat pantas bila ada redaktur yang diskorsing karena tidak teliti dan salah huruf. Dosanya besar, karena membuat repot pengecer dan bikin bingung puluhan ribu orang (pembaca, red),” kata Iing Casdirin.

Tetapi syukurlah, para pengguna jalan yang tidak membeli koran Radar di jalan-jalan dan lampu merah, bukan karena tidak suka, tetapi karena sudah berlangganan di rumah. “Pas saya tawarin, rata-rata bilang sudah langganan di rumah,” kata Pemred Abdul Malik.


foto-3.JPG
Pimpinan perusahaan, Pak Tommy Sudaryono malu-malu plus memang begitu gayanya..

Gugup tapi laku keras

Menjual koran memang bukan perkara gampang. Hal ini dialami Redaktur Pelaksana Radar Cirebon, Toto Suwarto. Pria yang kesehariannya terkenal humoris itu mendadak dibuat mati kutu. Untuk beberapa saat, ia yang kebagian mangkal di perempatan Kejaksan arah Jl Siliwangi hanya terkesima melihat lalu-lalang kendaraan yang melintas. Jatah lima eksemplar yang dibawanya pun hanya ditenteng begitu saja.

Namun, tak lama ia mulai sadar bahwa pada hari itu tugasnya bukan sekadar mejeng tak karuan, tapi menjadi seorang pengecer. Akhirnya dengan langkah mantap ia mulai beraksi. Satu, dua hingga beberapa mobil dan motor yang melintas tak satupun yang membeli.

Setiap ditawari, jawaban mereka hampir sama. “Saya sudah langganan.” Bahkan, beberapa di antara mereka hanya menggerakkan tangan tanda tak berminat membeli. Tidak sedikit juga yang menyangka koran itu digratiskan. Di lokasi ini, Redaktur Khusus Moh Fauzi paling banyak menjual koran, yakni 10 eksemplar selama 40 menit. “Wah sudah pantes jadi pengecer, eh bos pengecer, lakunya paling banyak,” sindir Eko Waska, asisten redaktur.

Lokasi perempatan Kejaksan ke arah Jl Siliwangi memang sengaja ditempati sedikitnya 10 orang. Di antaranya, Direktur Radar Cirebon, Yanto S Utomo. Pria yang akrab disapa Pak Yanto ini tanpa ragu ikut berbaur menjajakan koran.

Tidak ada istilah diistimewakan. Karena ditarget jatah habis, Pak Yanto pun ikut bersaing menjual koran. Ia sempat rebutan dengan anak buahnya demi bisa menjual satu eksemplar koran. Kemarin, pengecer dadakan dibagi ke lampu merah kawasan Gunung Sari, Siliwangi dan Karanggetas. (*)

0 Responses to “pengecer day’s”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




December 2006
M T W T F S S
« Nov   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Flickr Photos

6922

untitled

Coigach

More Photos

Top Posts


%d bloggers like this: